Showing posts with label Pencerahan Diri. Show all posts
Showing posts with label Pencerahan Diri. Show all posts

Saturday, December 31, 2011

RILEKS DULU AAAHHH !!!



Seharian Kerja atau beraktifitas penuh, capai n jenuh barangkali. Tapi itulah hidup. Harus dinamis dan penuh aktifitas. Ada aktifitas berarti ada hidup dan kehidupan. Ibarat jasad kalu gak ada denyut nadi pastilah mati. Tapi sebetulnya buat apa sich kita beraktifitas seharian selama berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun ?
Alangkah celakanya kalau kita hidup tak tentu arah dan tujuan yang pasti. Atau punya tujuan tapi hanya sekedar tujuan yang kita sendiri gak akan bisa merasakan sendiri manfaatnya ?
Apakah kita sudah merenungi apa yang telah kita perbuat sebagai cerminan dari apa yang akan dan telah kita capai ? Okay, sobat ada baiknya sobat tinggalkan sejenak semua aktifitas yang mungkin telah melelahkan dan menjenuhkan dengan membaca artikel-artikel perenungan diri berikut ini mudah-mudahan bisa kita jadikan sebagai wahana pencerahan diri kita. Selamat menikmati :


Wednesday, March 9, 2011

Lelaki Subuh

"Mba, aku punya temen yang aneh banget lho," adikku berkata tiba-tiba memecahkan kesunyian sore itu.
"Hmm," aku hanya menggumam mendengar pernyataan adikku tanpa melepaskan tatapan mataku dari buku yang sedang kunikmati isinya.
"Bener lho Mba, dia tuh salah satu orang teraneh yang pernah aku jumpai," lanjutnya lagi.
"Ya, wajar aja lah dek, orang aneh kayak kamu, pasti temennya juga aneh kan?" Aku hanya menjawab pernyataan adikku sekenanya, sambil tersenyum menggodanya.
"Mba mau denger nggak sih? ini serius, ntar mba rugi kalo gak mau dengerin aku," lanjutnya dengan nada sedikit lebih tinggi.
"Ya, kalau kamu merasa dia aneh, jangan dijadiin temen doong, sekarang aja kamu tu dah aneh banget, ntar gaul sama dia, bisa mampus Mba ngadapin kamu," jawabku sekenanya.
Adik bungsuku itu tidak memperdulikan jawabanku barusan. Melihat aku meletakkan bukuku, dengan muka yang serius dan berkerut dia mulai bercerita. Seperti biasa, kalau ekspresinya sudah begini, maka, sesibuk apapun aku —dengan terpaksa ataupun dengan kerelaan— aku harus punya waktu untuk mendengarkannya. Kebetulan adikku sedang weekend di kotaku. Dia sedang menyelesaikan studi masternya di salah satu kota di daerah barat Jerman, tetapi saat ini dia sedang melakukan pratikum (kalau di Indonesia setara dengan kerja praktek) di salah satu kota di bagian selatan. Kebetulan aku tinggal di kota antara barat dan selatan, sehingga dia mampir sebentar sekalian untuk menjengukku.
"Aku kenal dia belum sampai setahun di tempat aku pratikum." Adikku mulai bertutur. "Pertama kali aku kenal dengan dia, orangnya sih biasa saja, nothing special. Mungkin karena kita sama-sama dari Indonesia, apalagi sesama muslim. So, akhirnya kita jadi dekat dan akrab," tuturnya perlahan.
Hmm, tumben pikirku.
Aku sangat kenal tabiat adikku yang satu ini. Dia tidak mudah untuk menyatakan seseorang itu adalah teman dekatnya. Adikku ini dalam bergaul emang teramat sangat jaim dan introvert.
"Tumben, kamu punya temen deket dek, yang Mba tau, temen yang kamu anggap deket sejak lahir ampe sekarang kamu idup kan gak sampe 5 biji, hihi," kembali aku menggodanya.
"Pasti ada sesuatu yang yang membuat kamu betah dekat dengan dia, bener nggak? kali ini aku mencoba meraba, gerangan apakah yang membuat adikku ini bisa akrab dengan mahluk yang katanya aneh ini.
"Mba tau?"
"Ya nggak lah, wong kamunya belum bilang kok, gimana Mba bisa tau?" dengan sengaja aku memotong pembicaraannya.
"Aku benar-benar menyayanginya dengan sepenuh hatiku." Adikku berkata lembut dengan sorot mata penuh kekaguman.
’’What, wie bitte? Barusan kamu bilang apa? entar dulu, orang yang sedang adek bicarain ini laki apa perempuan sih?" tanyaku bergegas.
"Pffhh, Mba ini nyebelin banget! Ya cowok lah!" jawabnya ketus.
"Emm, cowok toh," jawabku ringan sambil tersenyum lebar.
"Ikhwan?" timpalku lagi.
"Hmm, kalo yang Mba maksud adalah lelaki berjenggot dan dengan segala atributnya, mungkin dia gak termasuk kategori ini deh."
"So, dia lelaki jenis yang mana?" tanyaku datar.
"Susah buat memberi definisinya, yang aku tau kalau dilihat dari luarnya, dia adalah lelaki biasa-biasa saja. Tampangnya dan gaya bicaranya gaul banget. Tetapi, kalau kita kenal dia lebih jauh, bagiku dia adalah cowok keren, dengan segala makna yang terkandung di dalamnya!" kembali adikku berkata dengan sorot mata berbinar.
"Tapi tadi katanya dia mahluk aneh? kok sekarang jadi mahluk keren? gak konsisten kamu ah," kembali aku menggoda adik bungsuku ini.
Hmm, kalau kata-kata pujian atau kekaguman keluar dari mulut adikku ini, berarti kualitas orang yang sedang dibicarakannya adalah memang bukan sembarangan. Adikku ini sangat pelit dengan pujian, atau mengakui kekagumannya kepada seseorang. Karena dia punya standar yang cukup tinggi dalam memberikan penilaian. Bagiku wajar saja, toh dia sendiri adalah kebanggaan di keluarga kami. Dia menyelesaikan S1-nya di jurusan teknik dalam waktu 3,5 tahun dengan predikat cum laude di Institut bergengsi.
Semenjak semester kedua kuliah dia sudah hidup mandiri dengan hasil keringatnya sendiri. Mendapatkan beasiswa top-ten student Indonesia dan penghasilan di sana sini dengan kepiawaiannya mengajar. Selain padat dengan jadwal kuliah dan mengajar privat, dia menyempatkan diri pula untuk mengajar mengaji anak-anak di masjid dekat rumah kontrakan kami. Menghidupkan masjid, mencarikan orang tua asuh bagi anak-anak kurang mampu yang menjadi murid mengajinya, dan bahkan terkadang merangkap menjadi imam dan muadzin, bahkan tukang ojek part time mama kalau pergi ke pengajian.
"Coba Mba tebak ya, dia pasti sholeh? Bener nggak? Trus, pekerja keras. Iya khan? and, apalagi ya? ah, palingan seputar itulah, gak bakalan jauh-jauh dari situ, iya kan?" Kataku dengan senyum penuh kemenangan. Karena aku yakin sekali, tebakanku kali ini tidak akan meleset jauh.
"Secara umum bener sih. Tapi cara sholehnya itu loh mba, yang gak masuk dalam jangkauan akalku," jelasnya sambil menerawang jauh.
"Maksudnya? Mba gak ngerti," tanyaku dengan sedikit rasa penasaran dibenakku.
"Kita sekarang ini bukan sedang di Indonesia Mba. Kalau aku temuin dia di Indonesia, ato di Bandung misalnya, mungkin bagiku sih biasa aja. Tapi, kalau untuk ukuran di sini —di Jerman— hmm berat!’’ tuturnya sambil menghela nafas.
Aku terdiam sejenak dan mulai menaruh perhatian pada apa yang barusan diucapkan oleh adikku. Dalam hati aku membenarkan ucapan adikku barusan. Untuk istiqomah tetap pada aturan Allah di sini tidaklah semudah mengucapkannya. Butuh perjuangan dan kesungguhan penuh. Untuk melakukan ibadah rutin —sholat lima waktu— tidaklah semudah di Indonesia. Belum lagi untuk selalu berhati-hati dalam segala hal, menjaga diri dari makanan haram dan menjaga pandangan misalnya. Benar-benar butuh azzam.
"Dia temenmu sama-sama kuliah? Dia sedang ambil Master juga di sini? Dia ikut tarbiyah?" tanyaku beruntun.
"Aku ketemu dia ketika sedang pratikum di Ulm. Dia juga sedang berjuang menyelesaikan program masternya."
"Beasiswa?" tanyaku penasaran.
"Ndak. Dia kuliah sambil bekerja part-time di sini."
"Maksud Mba, beasiswa dari keluarga?" timpalku sambil tersenyum simpul.
"Ndak juga. Dia tidak mau menerima kiriman dari orang tuanya dari Indonesia. Dia nggak tega, soalnya mereka sudah cukup tua katanya." jawab adikku sambil tetap menjawab dengan nada serius.
"Oo gitu." jawabku sambil berfikir, mencari bagian yang aneh tentang temennya tersebut.
"Mba tau, setiap waktu sholat tiba, dia akan segera berwudhu, mengenakan pakaian terbaiknya, dan selalu mengumandangkan adzan di kamarnya." lanjut adikku dengan kalem.
"Maksudmu? adzan di apartementnya?" tanyaku untuk memastikan pendengaranku.
"Iya. Bila kita kebetulan tidak sedang di luar apartement, dia selalu melakukan hal tersebut."
"Bahkan ketika kamu sedang berada di kamarnya?" selidikku lagi.
"Iya, dia tidak pernah perduli apakah lagi sendiri ataukah ada teman yang sedang mengunjunginya. Bila waktu sholat telah tiba, dia dengan cueknya adzan di kamarnya dengan suara yang syahdu dan mengajak sholat berjamaah." Dengan semangat adikku menjelaskan.
"Hmm, unik juga ya." sahutku sambil mencerna ucapan adikku.
Setelah hening sejenak, aku kembali bertanya kepada adikku.
"Adek pernah tanya ke dia nggak, kenapa dia melakukan hal itu?" selidikku penasaran.
"Pernah sih, setelah aku mati penasaran melihat tingkahnya yang nggak cuma sekali itu."
"Trus apa jawabannya?" Kucondongkan mukaku menanti jawaban dari mulut adikku.
"Dia bilang waktu sholat sudah tiba, dan dia merasa berkewajiban untuk menyeru menegakkan sholat, menghadap Allah untuk mencapai kemenangan." lanjut adikku.
"Tapi kan kadang-kadang di apartemennya cuma ada dia sendirian. So, dia adzan buat siapa?" lanjutku dengan nada yang sedikit tecekat di tenggorokan.
"Iya emang." jawab adikku dengan sorot mata berkaca, menggigit bibir bagian bawahnya, berusaha menahan agar bulir kristal dari bening matanya tidak tertumpah.
Mengertilah aku kini, gerangan perasaan yang tengah melanda di hati adik bungsuku ini. Dia tengah dilanda cemburu. Cemburu kepada saudaranya yang mengekspresikan rasa cintanya kepada Allah dengan cara yang tidak pernah terlintas di kepalanya.
"Mungkin itu emang ibadah ’andalannya’." lanjutku hanya untuk sekedar menetralisir perasaannya.
"Kamu kan juga punya ibadah favorit yang selalu berusaha istiqomah kamu lakukan dari dulu sampe sekarang." Kuucapkan kata-kataku dengan sebijak dan setenang mungkin.
Adikku hanya diam, menatapku dengan tatapan yang sulit untuk aku terjemahkan.
"Kamu Insya Allah masih istiqomah kan untuk selalu sholat subuh di masjid?" tanyaku lagi seraya menatap matanya hanya untuk sekedar memastikan.
Adikku mengangguk perlahan.
"Subuh di masjidnya di semua musim kan? Maksud Mba, mau summer ataupun winter kamu tetap sholat subuh di masjid kan?" lanjutku berusaha untuk mencairkan suasana.
Adikku kembali mengangguk.
"Tapi dia juga selalu sholat subuh di Masjid Mba. Mau sedingin apapun winter di sana, dia tetap untuk berusaha sholat subuh di Masjid." Lanjut adikku lagi.
"Asik doong, kalo gitu kamu punya temen buat sholat subuh," lanjutku lagi dengan nada setenang mungkin, dengan segenap gemuruh cemburu di dadaku.
Subhanallah, dari dasar hati yang terdalam, aku benar-benar memberikan dua jempol untuk mereka berdua. Untuk sholat shubuh tepat waktu, serta berjamaah di masjid —di negeri ini— benar-benar dibutuhkan energi kesholehan yang luar biasa. Aku tahu, tidak semua orang sanggup melakukannya. Hanya orang-orang yang sudah terbiasa melakukannya dan menjadi bagian yang tak terpisah dari jiwanya saja yang akan sanggup melaksanakannya. Dengan jadwal shubuh yang tidak tetap seperti di Indonesia, dengan masjid yang tidak selalu ada di setiap kota, serta dengan jiwa yang selalu berusaha istiqomah melakukannya, tentu, hanya akan bisa dilakukan oleh orang-orang pilihan saja!
"Aku mempunyai beribu kenangan indah dengan temanku ini Mba. Dari dia aku belajar banyak hal. Tentang arti ketulusan, kejujuran, kelembutan hati, dan terutama cara dia mengekspresikan cintanya kepada Allah. Pernah suatu hari sedang terjadi gerhana bulan. Dia menelponku dan mengajakku untuk melakukan sholat sunat gerhana bulan di Masjid. Karena dia mengikuti beberapa kajian di Masjid, Imam Masjid di sana cukup dekat dengan dia, sehingga dia mendapatkan informasi tentang adanya sholat gerhana bulan tersebut. Aku sih senang-senang saja diajak sholat gerhana bulan. Apalagi waktu itu hari Jumat, dan kupikir Insya Allah tidak akan lama. Aku nggak tau kalau yang bakalan jadi imamnya ternyata seorang hafidz Quran. Di rakaat pertama beliau membaca surat Ali Imron, dan di rakaat kedua kalau aku nggak salah Beliau membaca surat An-Nisa. Kebayang kan berapa lama jadinya?" adikku bercerita dengan bersemangat tapi dengan mimik muka yang masam.
Aku hanya tersenyum geli mendengar cerita adikku.
"Wah, bagus buatmu dong dek! Jadi sekalian ngulang hafalan Ali Imronmu, haha." aku berkata seraya tak kuasa menahan gelak tawaku, karena terbayang di benakku wajah adikku yang manyun dengan kaki yang pegal dan hati bertanya-tanya, kapan sholatnya bakalan kelar!
"Dan Mba tau nggak? Tadinya aku mau complaint tentang imam yang gak ‘care’ banget dengan jamaah yang mungkin cape karena surat yang dibacanya panjang baget ke temanku itu. Tetapi ketika aku melihat wajahnya yang begitu bahagia dan tidak sedikitpun terlihat letih, aku urungkan niatku untuk sedikit 'complaint'. Aku tidak habis pikir, semangat apa yang ada di dalam jiwanya, sehingga dia tidak terlihat lelah sedikitpun kala itu. Karena aku tahu, beban kuliah ditambah dengan beban untuk mencari rezeki untk menyambung hidup di sini, sudah cukup untuk membuat kita letih. Setelah sholat gerhana bulan selesai, aku dan temanku pulang dengan mengendarai sepeda kami dan dengan udara yang teramat sangat dingin. Mba pasti bisa membayangkan gimana cuaca jam 3 pagi di musim dingin di daerah selatan Jerman. Tapi ketika itu, yang aku rasakan hanyalah kehangatan suasana persaudaraan karena Allah semata. Begitu indah. Di negeri yang hampir sebagian besar penduduknya tidak mengenal Allah, kutemui saudaraku yang begitu dalam kecintaannya kepada Allah, yang bukan hanya sekedar di bibir saja. Karena tatap mata tidak pernah berdusta Mba. Aku benar-benar temukan binar mata dengan luapan rasa cinta yang begitu indah pada dirinya, ketika dia beribadah kepada Allah. Dia benar-benar mengayuh sepedanya pulang kerumah dengan segenap energi cintanya kepada Allah. Kalau mengingat kejadian itu, aku jadi malu sendiri dan serasa bermimpi. Hari gini, di sini, kutemui salah seorang yang dalam pandanganku begitu mencintai Allah. Dan di hati kecilku aku bertanya, bagaimanakah keadaaan para sahabat di zaman Rosulullah, sahabat dan para salafus sholeh? Bagaimana cara mereka mengekspresikan rasa cintanya kepada Allah?" adikku menarik nafasnya perlahan dan menghembuskannya dengan penuh kegalauan.
Sungguh, akupun hanya bisa termangu ketika mendengarkan cerita adikku tentang temannya yang ‘aneh’ itu. Dan aku menjadi penasaran dengan keanehan yang mungkin saja masih ada dalam dirinya.
"Trus, kerjaan ‘aneh’ apalagi yang dia lakuin selain itu dek?" tanyaku untuk mengetahui kebaikan tersembunyi apalagi yang bisa aku gali dan berharap bisa belajar banyak darinya. Adikku tersenyum misterius dan menggeleng gelengkan kepalanya perlahan.
"Kalau aku ceritain ke Mba, Mba pasti bilang aku sedang membual," jawab adikku sekenanya.
"Ya nggak lah, Insya Allah Mba percaya kok. Lagian kan gak ada untungnya juga buat kamu kalau kamu bohong," jawabku berusaha meyakinkannya.
"Pernah suatu hari, secara tidak sengaja dia menggunakan wireless internet connection yang tidak di password sama yang punya. Setelah selesai memakainya, dia baru tersadar, kalau itu sebenarnya adalah bukan haknya. Mba tau, apa yang kemudian dia lakukan?" Tanya adikku seraya menatapku dalam.
Aku hanya diam dan menggelengkan kepala.
"Dia berusaha mencari sang empunya wireless internet connection itu. Dia datangi rumahnya, dengan tujuan supaya sang pemilik menghalalkan internet connection yang telah dipakainya karena kekhilafannya." papar adikku.
Aku hanya melongo mendengarkan penuturan adikku.
"Dan, apa dia ketemu dengan sang empunya," tanyaku penasaran.
"Sayangnya tidak. Tetapi dia mendatangi rumah tersebut hingga tiga kali untuk menyempurnakan ikhtiarnya." Lanjut adikku lagi seraya menghela nafas.
"Kok seperti kisah ayah Imam Hanafi yang minta dihalalkan sang empunya apel, karena telah memakan buah apelnya secara tidak sengaja ya dek?" komentarku spontan.
"Benar. Aku juga memikirkan hal yang sama dengan yang Mba pikirkan. Itulah dia temanku itu. Dia begitu Hanif. Refleksi dari kesholehannya itu kadang-kadang membuat aku iri. Dan terkadang sesuatu yang unpredictable bagiku, tidak bisa kuduga. Aku benar-benar bersyukur kepada Allah yang telah mempertemukan aku dengan orang seperti dia, sehingga banyak yang telah aku pelajari dari dia. Cara dia beribadah dan menjaga diri dari sesuatu yang tidak halal baginya. Cara dia mejaga diri dan menjaga pandangan. Serta llisannya yang selalu menyebut nama Allah dalam setiap pembicaraannya, menunjukkan betapa dia begitu mencintai Rabbnya. Dia adalah sahabatku, saudaraku. Bagiku ia adalah sosok seorang pemuda sholeh yang tidak dikenal, ahli ibadah yang tersembunyi di ujung Jerman." Adikku berkata syahdu dengan segenap perasaan sendu yang tidak kumengerti.
Setelah mendengar cerita adikku itu, lama aku merenung, mencoba memahami hikmah dan pelajaran yang Allah sampaikan kepadaku. Teringat akan salah satu artikel yang pernah aku baca di majalah Tarbawi edisi 133. Ketika Allah kagum pada seorang pengembala. Dengan apa? Bila tiba waktunya untuk sholat, di padang lapang itu, ia berdiri mengumandangkan adzan. Sendirian. Lalu sholat. Sendirian. ’’Sesungguhnya Tuhanmu kagum kepada seorang pengembala kambing’’. Begitu Rasulullah menjelaskan. Istimewa? Ini baru istimewa. Ya bahkan sangat istimewa. Seperti diriwayatkan Abu Dawud dan Nasa’i, setelah pengembala itu melakukan shalat, Allah SWT berfirman: ’’Lihatlah hamba-Ku ini, ia adzan, lalu mendirikan sholat. Ia takut kepada-Ku. Aku telah mengampuninya, dan aku masukkan ia ke surga.’’
Subhanallah. Di zaman yang penuh fitnah, masih ada pemuda-pemuda yang tetap taat beribadah kepada Allah. Pada zaman ketika kebaikan dan keburukan menjadi begitu tak jelas maknanya. Pada tempat di mana segala kemaksiatan begitu bebas terbuka untuk dilakukan oleh siapa saja, bagiku, keberadaan mereka benar-benar luar biasa. Bak oase di gersangnya sahara. Menyejukkan.
Di penghujung senja, dalam sejuta kecamuk di dadaku. Berbaur bangga, cemburu dan bahagia, kutitip do’a pada malaikat yang bertugas hari itu.
Semoga Allah selalu berikan kekuatan istiqomah kepadamu brother. Tetaplah menjadi lelaki subuh. Tetaplah kumandangkan adzan hingga getar cinta dalam syahdunya suaramu menggetarkan kerajaan langit dan segenap penduduknya. Tetaplah teguh dalam kesholehanmu. Dalam kesendirianmu. Tetaplah menjadi pemuda yang tidak dikenal oleh segenap penduduk bumi, tapi selalu menjadi pembicaraan di seluruh penjuru langit yang tinggi, karena kesholehanmu, karena kecintaamu kepada Allah SWT.


Oleh Rts.Mardiyati Ismail

Saturday, March 5, 2011

Kok Jodohku Begono?

Oleh Endang TS Amir

Seorang sahabat mengirim sms curhat tentang suaminya. Dalam curhatan itu ia mengeluhkan tentang tindak tanduk suaminya yang lebih banyak kontra dengan dirinya. Merasakan betapa lelahnya ia menghadapi suaminya yang 'loading'nya lama banget katanya. Punya imam begitu…cuapee deh!
Berusaha bijak, aku membalas sms nya, menasehati agar ia berdamai dengan keadaan, namanya juga udah jodoh, suka tidak suka yaaa… jalani dan bersabar.
Sang sahabat membalas smsku dengan jawaban, "Aku sih paham, memang udah jodoh…tapi kok jodohku begono?"
Mungkin, pertanyaan ini menghinggapi begitu banyak orang. Ketika mereka telah menikah, ternyata pasangan hidupnya jauh dari harapan.
Begitulah manusia, kita ditakdirkan dengan kondisi siap menerima segala hal yang menyenangkan dan sesuai dengan keinginan kita. Tapi sedikit sekali dari kita, yang siap dengan hal-hal buruk yang terjadi dalam kehidupan kita. Begitupula dengan masalah jodoh. Siapa yang tidak ingin memiliki pasangan hidup yang sholeh atau sholehah? Siapa yang tidak ingin memiliki pendamping yang berakhlak baik? Seburuk apapun diri kita, pastinya kita ingin pasanganan hidup yang baik. Tetapi tidak setiap orang mendapati kenyataan ini dalam kehidupan.
Ada yang suaminya sungguh baik, tetapi istrinya galak, matre dan tukang gosip. Ada yang istrinya sholehah, tapi suaminya tukang mabuk, suka judi dan bersikap kasar. Atas fenomena ini, mungkin banyak yang bertanya-tanya, kok kesannya jadi nggak adil ya? Orang baik-baik, tapi dapet jodohnya begitu?
Memang jadi sulit dijelaskan. Tetapi jika ingin dipahami, inilah ujian Allah. Sesungguhnya Allah berkehendak membuka ladang amal yang seluas-luasnya bagi diri kita, lewat tingkah polah pasangan hidup kita, yang jauh dari harapan. Alhamdulillah, tidak usah cari jauh-jauh, ladang amal ada di depan mata. Karena pernikahan memang ladang amal soleh. Bagi wanitanya, pun bagi laki-lakinya. Maka bagi yang “tidak beruntung” dengan pasangan hidup yang tidak sholeh atau sholehah, mudah-mudahan tetap dapat memberi pelayanan yang terbaik bagi pasangannya, dengan harapan semoga mendapat ridho Allah dan semoga kelak mendapat derajat yang tinggi di sisi-Nya.
Jika kita merasa tidak beruntung terhadap pasangan hidup kita, mari mengevaluasi diri. Apa sesungguhnya niat kita ketika hendak menikah? Mudah-mudahan, jawaban dari pertanyaan itu, dapat memperbaiki mood kita yang buruk karena pasangan hidup tidak sesuai harapan.
Jika benar kita meniatkan pernikahan sebagai ibadah atau sarana pengabdian kita kepada Sang Khalik, maka semestinya pelayanan kita terhadap pasangan hidup kita, tidak ada embel-embelnya. Artinya, mau dia bertingkah seperti apapun tidak jadi masalah, karena pasangan hidup hanya sarana untuk mengabdi kepada Allah. Fokus dan tujuan kita adalah Allah. Jika ternyata pasangan hidup kita adalah pribadi yang sholeh/ah, maka itu adalah bonus.
Jika kita merasa tidak beruntung terhadap pasangan hidup kita, sebelum berputus asa, mungkin ada baiknya kita merenung kembali. Tidakkah kita terlalu meninggikan kriteria bagi pasangan hidup kita? Sikap berharap secara berlebihan terhadap pasangan hidup, berpotensi menyebabkan rumah tangga tidak berjalan dengan baik. Karena pola pikir yang tertanam dalam diri kita adalah menerima kebaikan, bukan keinginan untuk saling mengisi dan memperbaiki satu sama lain.
Semakin tinggi standard yang kita tetapkan, maka akan semakin besar potensi kita untuk kecewa. Karena semakin tinggi standard, semakin terlihat jelas jika terjadi hal-hal yang melenceng dari standard.
Memiliki harapan tinggi boleh-boleh saja. Tapi, sebelum kita bermimpi mendapatkan suami seperti Rasulullah, lebih baik kita berkaca diri, sudahkah kita seperti Ibunda Khadijah r.ha? Sebelum berharap memiliki istri seperti Fatimah Az-Zahra r.ha, lebih baik kita bercermin, sudahkah kita seperti Ali bin Abi Thalib r.a?
Jadi, berprasangka baiklah kepada Allah, kemudian berserah diri. Jangan mendikte Allah tentang jodoh kita. Percaya, bahwa Allah memberi kita yang terbaik sesuai dengan penilaian Allah terhadap diri kita. Yakin, Allah tahu yang paling cocok untuk diri kita. Kemudian berserah dirilah dan bersabar dengan jodoh pilihan dari Allah. Insya Allah, ini akan lebih menenangkan batin dan membuka pintu keikhlasan.
Selalu ada hikmah dalam setiap peristiwa. Maka berpikirlah positif apapun yang terjadi. Melihat segala sesuatu dengan kemungkinan-kemungkinan terbaik. Jika pasangan hidup pemalas, mungkin, Allah berkehendak kita menjadi lebih rajin. Jika pasangan hidup pemarah, mungkin, Allah berkehendak kita menjadi lebih sabar. Jadi, orientasi kita selalu ke Allah. Insya Allah, ini lebih melapangkan hati.
Sebagai penutup, mungkin kisah yang terjadi di masa Harun Al-Rasyid berkuasa di bawah ini, bisa menjadi pencerahan. Diceritakan, terdapatlah seorang wanita muda yang cantik dan sholehah, namun bersuamikan seorang laki-laki tua yang buruk rupa, buruk pula perangainya.
Wanita tersebut tinggal dalam sebuah kemah. Kebetulan ia kedatangan seorang tamu. Ketika datang suaminya, bergegaslah wanita itu mengambil air, kemudian membasuh tangan dan kaki suaminya. Suaminya tidak menunjukkan sikap yang simpatik atas pelayanan istrinya. Atas sikap suami tersebut, sang tamu berkomentar. Mengapa sang wanita harus bersusah payah berkhidmat sedemikian rupa padahal suaminya sudah tua, buruk rupa dan kasar. Atas komentar tamu tersebut, sang wanita menjawab. “Aku mendengar Rasulullah bersabda, bahwa iman terbagi menjadi dua. Separuh dalam syukur dan separuh dalam sabar. Aku sangat bersyukur Allah menganugerahkan kepadaku wajah yang cantik. Maka aku ingin meyempurnakan separuhnya dengan bersabar atas perlakuan suamiku.”
Wallahu’alam.

Lelaki Subuh

Oleh Rts.Mardiyati Ismail

"Mba, aku punya temen yang aneh banget lho," adikku berkata tiba-tiba memecahkan kesunyian sore itu.
"Hmm," aku hanya menggumam mendengar pernyataan adikku tanpa melepaskan tatapan mataku dari buku yang sedang kunikmati isinya.
"Bener lho Mba, dia tuh salah satu orang teraneh yang pernah aku jumpai," lanjutnya lagi.
"Ya, wajar aja lah dek, orang aneh kayak kamu, pasti temennya juga aneh kan?" Aku hanya menjawab pernyataan adikku sekenanya, sambil tersenyum menggodanya.
"Mba mau denger nggak sih? ini serius, ntar mba rugi kalo gak mau dengerin aku," lanjutnya dengan nada sedikit lebih tinggi.
"Ya, kalau kamu merasa dia aneh, jangan dijadiin temen doong, sekarang aja kamu tu dah aneh banget, ntar gaul sama dia, bisa mampus Mba ngadapin kamu," jawabku sekenanya.
Adik bungsuku itu tidak memperdulikan jawabanku barusan. Melihat aku meletakkan bukuku, dengan muka yang serius dan berkerut dia mulai bercerita. Seperti biasa, kalau ekspresinya sudah begini, maka, sesibuk apapun aku —dengan terpaksa ataupun dengan kerelaan— aku harus punya waktu untuk mendengarkannya. Kebetulan adikku sedang weekend di kotaku. Dia sedang menyelesaikan studi masternya di salah satu kota di daerah barat Jerman, tetapi saat ini dia sedang melakukan pratikum (kalau di Indonesia setara dengan kerja praktek) di salah satu kota di bagian selatan. Kebetulan aku tinggal di kota antara barat dan selatan, sehingga dia mampir sebentar sekalian untuk menjengukku.
"Aku kenal dia belum sampai setahun di tempat aku pratikum." Adikku mulai bertutur. "Pertama kali aku kenal dengan dia, orangnya sih biasa saja, nothing special. Mungkin karena kita sama-sama dari Indonesia, apalagi sesama muslim. So, akhirnya kita jadi dekat dan akrab," tuturnya perlahan.
Hmm, tumben pikirku.
Aku sangat kenal tabiat adikku yang satu ini. Dia tidak mudah untuk menyatakan seseorang itu adalah teman dekatnya. Adikku ini dalam bergaul emang teramat sangat jaim dan introvert.
"Tumben, kamu punya temen deket dek, yang Mba tau, temen yang kamu anggap deket sejak lahir ampe sekarang kamu idup kan gak sampe 5 biji, hihi," kembali aku menggodanya.
"Pasti ada sesuatu yang yang membuat kamu betah dekat dengan dia, bener nggak? kali ini aku mencoba meraba, gerangan apakah yang membuat adikku ini bisa akrab dengan mahluk yang katanya aneh ini.
"Mba tau?"
"Ya nggak lah, wong kamunya belum bilang kok, gimana Mba bisa tau?" dengan sengaja aku memotong pembicaraannya.
"Aku benar-benar menyayanginya dengan sepenuh hatiku." Adikku berkata lembut dengan sorot mata penuh kekaguman.
’’What, wie bitte? Barusan kamu bilang apa? entar dulu, orang yang sedang adek bicarain ini laki apa perempuan sih?" tanyaku bergegas.
"Pffhh, Mba ini nyebelin banget! Ya cowok lah!" jawabnya ketus.
"Emm, cowok toh," jawabku ringan sambil tersenyum lebar.
"Ikhwan?" timpalku lagi.
"Hmm, kalo yang Mba maksud adalah lelaki berjenggot dan dengan segala atributnya, mungkin dia gak termasuk kategori ini deh."
"So, dia lelaki jenis yang mana?" tanyaku datar.
"Susah buat memberi definisinya, yang aku tau kalau dilihat dari luarnya, dia adalah lelaki biasa-biasa saja. Tampangnya dan gaya bicaranya gaul banget. Tetapi, kalau kita kenal dia lebih jauh, bagiku dia adalah cowok keren, dengan segala makna yang terkandung di dalamnya!" kembali adikku berkata dengan sorot mata berbinar.
"Tapi tadi katanya dia mahluk aneh? kok sekarang jadi mahluk keren? gak konsisten kamu ah," kembali aku menggoda adik bungsuku ini.
Hmm, kalau kata-kata pujian atau kekaguman keluar dari mulut adikku ini, berarti kualitas orang yang sedang dibicarakannya adalah memang bukan sembarangan. Adikku ini sangat pelit dengan pujian, atau mengakui kekagumannya kepada seseorang. Karena dia punya standar yang cukup tinggi dalam memberikan penilaian. Bagiku wajar saja, toh dia sendiri adalah kebanggaan di keluarga kami. Dia menyelesaikan S1-nya di jurusan teknik dalam waktu 3,5 tahun dengan predikat cum laude di Institut bergengsi.
Semenjak semester kedua kuliah dia sudah hidup mandiri dengan hasil keringatnya sendiri. Mendapatkan beasiswa top-ten student Indonesia dan penghasilan di sana sini dengan kepiawaiannya mengajar. Selain padat dengan jadwal kuliah dan mengajar privat, dia menyempatkan diri pula untuk mengajar mengaji anak-anak di masjid dekat rumah kontrakan kami. Menghidupkan masjid, mencarikan orang tua asuh bagi anak-anak kurang mampu yang menjadi murid mengajinya, dan bahkan terkadang merangkap menjadi imam dan muadzin, bahkan tukang ojek part time mama kalau pergi ke pengajian.
"Coba Mba tebak ya, dia pasti sholeh? Bener nggak? Trus, pekerja keras. Iya khan? and, apalagi ya? ah, palingan seputar itulah, gak bakalan jauh-jauh dari situ, iya kan?" Kataku dengan senyum penuh kemenangan. Karena aku yakin sekali, tebakanku kali ini tidak akan meleset jauh.
"Secara umum bener sih. Tapi cara sholehnya itu loh mba, yang gak masuk dalam jangkauan akalku," jelasnya sambil menerawang jauh.
"Maksudnya? Mba gak ngerti," tanyaku dengan sedikit rasa penasaran dibenakku.
"Kita sekarang ini bukan sedang di Indonesia Mba. Kalau aku temuin dia di Indonesia, ato di Bandung misalnya, mungkin bagiku sih biasa aja. Tapi, kalau untuk ukuran di sini —di Jerman— hmm berat!’’ tuturnya sambil menghela nafas.
Aku terdiam sejenak dan mulai menaruh perhatian pada apa yang barusan diucapkan oleh adikku. Dalam hati aku membenarkan ucapan adikku barusan. Untuk istiqomah tetap pada aturan Allah di sini tidaklah semudah mengucapkannya. Butuh perjuangan dan kesungguhan penuh. Untuk melakukan ibadah rutin —sholat lima waktu— tidaklah semudah di Indonesia. Belum lagi untuk selalu berhati-hati dalam segala hal, menjaga diri dari makanan haram dan menjaga pandangan misalnya. Benar-benar butuh azzam.
"Dia temenmu sama-sama kuliah? Dia sedang ambil Master juga di sini? Dia ikut tarbiyah?" tanyaku beruntun.
"Aku ketemu dia ketika sedang pratikum di Ulm. Dia juga sedang berjuang menyelesaikan program masternya."
"Beasiswa?" tanyaku penasaran.
"Ndak. Dia kuliah sambil bekerja part-time di sini."
"Maksud Mba, beasiswa dari keluarga?" timpalku sambil tersenyum simpul.
"Ndak juga. Dia tidak mau menerima kiriman dari orang tuanya dari Indonesia. Dia nggak tega, soalnya mereka sudah cukup tua katanya." jawab adikku sambil tetap menjawab dengan nada serius.
"Oo gitu." jawabku sambil berfikir, mencari bagian yang aneh tentang temennya tersebut.
"Mba tau, setiap waktu sholat tiba, dia akan segera berwudhu, mengenakan pakaian terbaiknya, dan selalu mengumandangkan adzan di kamarnya." lanjut adikku dengan kalem.
"Maksudmu? adzan di apartementnya?" tanyaku untuk memastikan pendengaranku.
"Iya. Bila kita kebetulan tidak sedang di luar apartement, dia selalu melakukan hal tersebut."
"Bahkan ketika kamu sedang berada di kamarnya?" selidikku lagi.
"Iya, dia tidak pernah perduli apakah lagi sendiri ataukah ada teman yang sedang mengunjunginya. Bila waktu sholat telah tiba, dia dengan cueknya adzan di kamarnya dengan suara yang syahdu dan mengajak sholat berjamaah." Dengan semangat adikku menjelaskan.
"Hmm, unik juga ya." sahutku sambil mencerna ucapan adikku.
Setelah hening sejenak, aku kembali bertanya kepada adikku.
"Adek pernah tanya ke dia nggak, kenapa dia melakukan hal itu?" selidikku penasaran.
"Pernah sih, setelah aku mati penasaran melihat tingkahnya yang nggak cuma sekali itu."
"Trus apa jawabannya?" Kucondongkan mukaku menanti jawaban dari mulut adikku.
"Dia bilang waktu sholat sudah tiba, dan dia merasa berkewajiban untuk menyeru menegakkan sholat, menghadap Allah untuk mencapai kemenangan." lanjut adikku.
"Tapi kan kadang-kadang di apartemennya cuma ada dia sendirian. So, dia adzan buat siapa?" lanjutku dengan nada yang sedikit tecekat di tenggorokan.
"Iya emang." jawab adikku dengan sorot mata berkaca, menggigit bibir bagian bawahnya, berusaha menahan agar bulir kristal dari bening matanya tidak tertumpah.
Mengertilah aku kini, gerangan perasaan yang tengah melanda di hati adik bungsuku ini. Dia tengah dilanda cemburu. Cemburu kepada saudaranya yang mengekspresikan rasa cintanya kepada Allah dengan cara yang tidak pernah terlintas di kepalanya.
"Mungkin itu emang ibadah ’andalannya’." lanjutku hanya untuk sekedar menetralisir perasaannya.
"Kamu kan juga punya ibadah favorit yang selalu berusaha istiqomah kamu lakukan dari dulu sampe sekarang." Kuucapkan kata-kataku dengan sebijak dan setenang mungkin.
Adikku hanya diam, menatapku dengan tatapan yang sulit untuk aku terjemahkan.
"Kamu Insya Allah masih istiqomah kan untuk selalu sholat subuh di masjid?" tanyaku lagi seraya menatap matanya hanya untuk sekedar memastikan.
Adikku mengangguk perlahan.
"Subuh di masjidnya di semua musim kan? Maksud Mba, mau summer ataupun winter kamu tetap sholat subuh di masjid kan?" lanjutku berusaha untuk mencairkan suasana.
Adikku kembali mengangguk.
"Tapi dia juga selalu sholat subuh di Masjid Mba. Mau sedingin apapun winter di sana, dia tetap untuk berusaha sholat subuh di Masjid." Lanjut adikku lagi.
"Asik doong, kalo gitu kamu punya temen buat sholat subuh," lanjutku lagi dengan nada setenang mungkin, dengan segenap gemuruh cemburu di dadaku.
Subhanallah, dari dasar hati yang terdalam, aku benar-benar memberikan dua jempol untuk mereka berdua. Untuk sholat shubuh tepat waktu, serta berjamaah di masjid —di negeri ini— benar-benar dibutuhkan energi kesholehan yang luar biasa. Aku tahu, tidak semua orang sanggup melakukannya. Hanya orang-orang yang sudah terbiasa melakukannya dan menjadi bagian yang tak terpisah dari jiwanya saja yang akan sanggup melaksanakannya. Dengan jadwal shubuh yang tidak tetap seperti di Indonesia, dengan masjid yang tidak selalu ada di setiap kota, serta dengan jiwa yang selalu berusaha istiqomah melakukannya, tentu, hanya akan bisa dilakukan oleh orang-orang pilihan saja!
"Aku mempunyai beribu kenangan indah dengan temanku ini Mba. Dari dia aku belajar banyak hal. Tentang arti ketulusan, kejujuran, kelembutan hati, dan terutama cara dia mengekspresikan cintanya kepada Allah. Pernah suatu hari sedang terjadi gerhana bulan. Dia menelponku dan mengajakku untuk melakukan sholat sunat gerhana bulan di Masjid. Karena dia mengikuti beberapa kajian di Masjid, Imam Masjid di sana cukup dekat dengan dia, sehingga dia mendapatkan informasi tentang adanya sholat gerhana bulan tersebut. Aku sih senang-senang saja diajak sholat gerhana bulan. Apalagi waktu itu hari Jumat, dan kupikir Insya Allah tidak akan lama. Aku nggak tau kalau yang bakalan jadi imamnya ternyata seorang hafidz Quran. Di rakaat pertama beliau membaca surat Ali Imron, dan di rakaat kedua kalau aku nggak salah Beliau membaca surat An-Nisa. Kebayang kan berapa lama jadinya?" adikku bercerita dengan bersemangat tapi dengan mimik muka yang masam.
Aku hanya tersenyum geli mendengar cerita adikku.
"Wah, bagus buatmu dong dek! Jadi sekalian ngulang hafalan Ali Imronmu, haha." aku berkata seraya tak kuasa menahan gelak tawaku, karena terbayang di benakku wajah adikku yang manyun dengan kaki yang pegal dan hati bertanya-tanya, kapan sholatnya bakalan kelar!
"Dan Mba tau nggak? Tadinya aku mau complaint tentang imam yang gak ‘care’ banget dengan jamaah yang mungkin cape karena surat yang dibacanya panjang baget ke temanku itu. Tetapi ketika aku melihat wajahnya yang begitu bahagia dan tidak sedikitpun terlihat letih, aku urungkan niatku untuk sedikit 'complaint'. Aku tidak habis pikir, semangat apa yang ada di dalam jiwanya, sehingga dia tidak terlihat lelah sedikitpun kala itu. Karena aku tahu, beban kuliah ditambah dengan beban untuk mencari rezeki untk menyambung hidup di sini, sudah cukup untuk membuat kita letih. Setelah sholat gerhana bulan selesai, aku dan temanku pulang dengan mengendarai sepeda kami dan dengan udara yang teramat sangat dingin. Mba pasti bisa membayangkan gimana cuaca jam 3 pagi di musim dingin di daerah selatan Jerman. Tapi ketika itu, yang aku rasakan hanyalah kehangatan suasana persaudaraan karena Allah semata. Begitu indah. Di negeri yang hampir sebagian besar penduduknya tidak mengenal Allah, kutemui saudaraku yang begitu dalam kecintaannya kepada Allah, yang bukan hanya sekedar di bibir saja. Karena tatap mata tidak pernah berdusta Mba. Aku benar-benar temukan binar mata dengan luapan rasa cinta yang begitu indah pada dirinya, ketika dia beribadah kepada Allah. Dia benar-benar mengayuh sepedanya pulang kerumah dengan segenap energi cintanya kepada Allah. Kalau mengingat kejadian itu, aku jadi malu sendiri dan serasa bermimpi. Hari gini, di sini, kutemui salah seorang yang dalam pandanganku begitu mencintai Allah. Dan di hati kecilku aku bertanya, bagaimanakah keadaaan para sahabat di zaman Rosulullah, sahabat dan para salafus sholeh? Bagaimana cara mereka mengekspresikan rasa cintanya kepada Allah?" adikku menarik nafasnya perlahan dan menghembuskannya dengan penuh kegalauan.
Sungguh, akupun hanya bisa termangu ketika mendengarkan cerita adikku tentang temannya yang ‘aneh’ itu. Dan aku menjadi penasaran dengan keanehan yang mungkin saja masih ada dalam dirinya.
"Trus, kerjaan ‘aneh’ apalagi yang dia lakuin selain itu dek?" tanyaku untuk mengetahui kebaikan tersembunyi apalagi yang bisa aku gali dan berharap bisa belajar banyak darinya. Adikku tersenyum misterius dan menggeleng gelengkan kepalanya perlahan.
"Kalau aku ceritain ke Mba, Mba pasti bilang aku sedang membual," jawab adikku sekenanya.
"Ya nggak lah, Insya Allah Mba percaya kok. Lagian kan gak ada untungnya juga buat kamu kalau kamu bohong," jawabku berusaha meyakinkannya.
"Pernah suatu hari, secara tidak sengaja dia menggunakan wireless internet connection yang tidak di password sama yang punya. Setelah selesai memakainya, dia baru tersadar, kalau itu sebenarnya adalah bukan haknya. Mba tau, apa yang kemudian dia lakukan?" Tanya adikku seraya menatapku dalam.
Aku hanya diam dan menggelengkan kepala.
"Dia berusaha mencari sang empunya wireless internet connection itu. Dia datangi rumahnya, dengan tujuan supaya sang pemilik menghalalkan internet connection yang telah dipakainya karena kekhilafannya." papar adikku.
Aku hanya melongo mendengarkan penuturan adikku.
"Dan, apa dia ketemu dengan sang empunya," tanyaku penasaran.
"Sayangnya tidak. Tetapi dia mendatangi rumah tersebut hingga tiga kali untuk menyempurnakan ikhtiarnya." Lanjut adikku lagi seraya menghela nafas.
"Kok seperti kisah ayah Imam Hanafi yang minta dihalalkan sang empunya apel, karena telah memakan buah apelnya secara tidak sengaja ya dek?" komentarku spontan.
"Benar. Aku juga memikirkan hal yang sama dengan yang Mba pikirkan. Itulah dia temanku itu. Dia begitu Hanif. Refleksi dari kesholehannya itu kadang-kadang membuat aku iri. Dan terkadang sesuatu yang unpredictable bagiku, tidak bisa kuduga. Aku benar-benar bersyukur kepada Allah yang telah mempertemukan aku dengan orang seperti dia, sehingga banyak yang telah aku pelajari dari dia. Cara dia beribadah dan menjaga diri dari sesuatu yang tidak halal baginya. Cara dia mejaga diri dan menjaga pandangan. Serta llisannya yang selalu menyebut nama Allah dalam setiap pembicaraannya, menunjukkan betapa dia begitu mencintai Rabbnya. Dia adalah sahabatku, saudaraku. Bagiku ia adalah sosok seorang pemuda sholeh yang tidak dikenal, ahli ibadah yang tersembunyi di ujung Jerman." Adikku berkata syahdu dengan segenap perasaan sendu yang tidak kumengerti.
Setelah mendengar cerita adikku itu, lama aku merenung, mencoba memahami hikmah dan pelajaran yang Allah sampaikan kepadaku. Teringat akan salah satu artikel yang pernah aku baca di majalah Tarbawi edisi 133. Ketika Allah kagum pada seorang pengembala. Dengan apa? Bila tiba waktunya untuk sholat, di padang lapang itu, ia berdiri mengumandangkan adzan. Sendirian. Lalu sholat. Sendirian. ’’Sesungguhnya Tuhanmu kagum kepada seorang pengembala kambing’’. Begitu Rasulullah menjelaskan. Istimewa? Ini baru istimewa. Ya bahkan sangat istimewa. Seperti diriwayatkan Abu Dawud dan Nasa’i, setelah pengembala itu melakukan shalat, Allah SWT berfirman: ’’Lihatlah hamba-Ku ini, ia adzan, lalu mendirikan sholat. Ia takut kepada-Ku. Aku telah mengampuninya, dan aku masukkan ia ke surga.’’
Subhanallah. Di zaman yang penuh fitnah, masih ada pemuda-pemuda yang tetap taat beribadah kepada Allah. Pada zaman ketika kebaikan dan keburukan menjadi begitu tak jelas maknanya. Pada tempat di mana segala kemaksiatan begitu bebas terbuka untuk dilakukan oleh siapa saja, bagiku, keberadaan mereka benar-benar luar biasa. Bak oase di gersangnya sahara. Menyejukkan.
Di penghujung senja, dalam sejuta kecamuk di dadaku. Berbaur bangga, cemburu dan bahagia, kutitip do’a pada malaikat yang bertugas hari itu.
Semoga Allah selalu berikan kekuatan istiqomah kepadamu brother. Tetaplah menjadi lelaki subuh. Tetaplah kumandangkan adzan hingga getar cinta dalam syahdunya suaramu menggetarkan kerajaan langit dan segenap penduduknya. Tetaplah teguh dalam kesholehanmu. Dalam kesendirianmu. Tetaplah menjadi pemuda yang tidak dikenal oleh segenap penduduk bumi, tapi selalu menjadi pembicaraan di seluruh penjuru langit yang tinggi, karena kesholehanmu, karena kecintaamu kepada Allah SWT.

Memuliakan Ataukah Memalukan?

Oleh Nurudin

Dari Abu Hurairah RA, sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda : Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. ( HR Bukhari/Muslim )
Memuliakan tamu, aku rasa kita semua tahu apa maksudnya. Bukan melulu berurusan dengan makanan dan minuman sebagai suguhan, tapi yang tak kalah penting adalah sambutan dan pelayanan terbaik yang kita berikan, agar sang tamu merasa senang, nyaman dan silaturahmi menjadi lebih berkesan. Memuliakan tamu, semestinya tidak pilih-pilih, tua muda, miskin kaya, pejabat ataupun rakyat biasa, apalagi bila kedatangan mereka memang sengaja kita yang mengundangnya.
Namun terkadang niat memuliakan ( menyenangkan ) tamu dilakukan dengan cara-cara yang keliru. Seperti kejadian yang kutemui saat mendatangi sebuah undangan resepsi pernikahan beberapa waktu yang lalu. Karena istri sedang ada keperluan lain, maka aku mendatangi undangan resepsi pernikahan itu soerang diri.
Siang itu para tamu yang hadir cukup banyak, meski tak satupun dari mereka yang kukenal. Beberapa pria berseragam batik tersenyum ramah menyambut setiap tamu yang datang. Melihat keramahan mereka, rasa canggungku sedikit berkurang. Namun sayang, untuk acara resepsi pernikahan yang menurutku cukup mewah dan meriah ini tidak dipisahkan antara tamu pria dan wanita, sama seperti acara resepsi pada umumnya ( menyedihkan, tapi begitulah adanya dan biasanya ). Kulihat memang ada dua pintu masuk menuju lokasi, tapi bukan untuk membedakan pintu masuk pria maupun wanita, melainkan sekedar pintu bagi para tamu yang datang dari sebelah kiri dan kanan saja.
Memasuki lokasi resepsi, kulihat di sebelah kanan terdapat panggung utama, tempat sang pengantin dan juga keluarga dari kedua belah pihak menerima para tamu yang datang memberikan ucapan selamat. Di tengah-tengah, terdapat dua baris meja panjang dengan berbagai menu makanan yang menggugah selera tersaji di sana. Dan, di sebelah kiri, kulihat sebuah panggung berukuran sedang yang kalau dilihat isi dan spanduk yang terbentang di bagian belakang, kutahu itu adalah panggung hiburan, sebagai pelengkap suguhan shohibul hajat kepada para tamu undangan. Saat itu suasana panggung sepi, entah sedang istirahat atau malah belum mulai sama sekali.
Aku berjalan menuju panggung utama, antri bersama dengan tamu undangan lainnya yang ingin mengucapkan selamat kepada kedua mempelai dan juga pihak keluarga. Agak risih juga ketika harus berdiri di tengah-tengah undangan pria dan wanita yang mengenakan pakaian dan dandanan beraneka rupa. Aku coba alihkan perhatian kepada kedua mempelai yang terlihat sangat bahagia. Usai mengucapkan selamat kepada kedua mempelai dan juga keluarga, semua undangan diarahkan untuk segera mencicipi hidangan yang telah tersedia. Aku mengambil nasi dan lauk kesukaanku dan duduk tak jauh dari panggung hiburan.
Bukan, bukan maksud agar bisa melihat jelas para artis yang nantinya akan menghibur, tapi karena tempat itulah yang kurasa paling aman, tak bercampur dengan tamu undangan wanita. Namun rupanya, inilah awal ‘penderitaanku’ yang mendasari tulisan ini. Saat aku datang sampai mengambil makanan, suasana panggung hiburan sepi, hanya ada satu orang duduk di belakang keyboard, sang artis entah kemana tak aku pedulikan. Tapi saat aku baru menghabiskan separuh nasiku, tiba-tiba dua orang wanita tampil di atas panggung dengan dandanan yang ….Astaghfirulloh! sungguh, menyesal aku telah mendongakan pandanganku.
Aku tak menghiraukan kehadiran dua artis di atas panggung itu dan mencoba menikmati sisa makanku. Namun sayang selera makanku telah terlanjur menguap, hilang bersama dengan hadirnya dua penyanyi di atas panggung. Aku benar-benar tak bisa meneruskan makanku, ketika salah satu dari mereka menyanyikan sebuah lagu. Bukan lagunya yang membuatku tak tertelan makan, tapi cara dia menyanyikannya, suara dan gerak tubuhnya. Tak ada keindahan, kecuali sekedar mengundang nafsu rendahan.
Aku tak mau mempermasalahkan adanya hiburan di acara resepsi pernihakah yang kuhadiri siang itu. Ini bukan yang pertama kali, bahkan hampir di setiap acara seperti ini, musik hiburan selalu jadi bagian yang seakan tak bisa dihilangkan. Paling tidak, suara musik dari tape atau vcd player selalu memeriahkan acara yang katanya sebuah syukuran. Tapi, bila hiburan yang disuguhkan adalah hiburan yang mengundang nafsu rendahan, aku jadi berfikir apakah ini yang dimaksud memuliakan ataukah justru memalukan?. Astaghfirulloh, aku tak mau menghakimi meskipun itu yang nyata terlihat. Barangkali, maksud tuan rumah adalah untuk memeriahkan suasana, menyenangkan hari para tamu yang datang, namun caranya saja yang keliru.
Aku batalkan niatku untuk menikmati buah segar yang tersedia di meja tak jauh dari tempat dudukku. Juga ketika kulihat beberapa orang yang kukenal datang, aku urungkan niatku untuk menyapa dan berbincang dengan mereka. Nyanyian dan tarian sang biduan sudah memberikan alasan bagiku untuk segera meninggalkan tempat itu , secepatnya!. Usai memasukan angpao, aku segera berpamitan kepada kedua mempelai dan segera berlalu dengan sebuah tanda tanya besar. Benarkah setiap tamu yang datang menginginkan adanya hiburan, ataukah ini hanya prasangka dan tanpa sadar mengikuti perangkap setan belaka?

Menata Hati

Oleh Syaripudin Zuhri

Dalam pergaulan, seringkali manusia menemukan orang-orang yang kadang kadang kasar dan tak segan-segan mempermalukan orang lain di depan umum, dengan caci maki atau penghinaan, yang anehnya, orang kasar seperti itu bukan hanya di temukan pada orang yang, maaf, kurang pendidikan atau “tak makan bangku sekolahan”, Kata-kata kasar, memaki atau menghina orang lain di depan umum, ternyata juga dimiliki oleh orang-orang yang mempunyai pendidikan tinggi alias sudah “makan bangku sekolahan atau makan bangku kuliahan”, bahkan kadang-kadang punya gelar akademis yang berjejer, di depan atau di belakang namanya.
Aneh memang, orang yang punya pendidikan tinggi, kok kata-katanya kasar dan tak segan menghina orang lain di depan umum, lalu akhlaknya dikemanakan? Kalau orang yang tak punya pendidikan, mungkin kita bisa maklum, tapi itulah manusia. Mungkin saja, menghina atau kata-kata kasar sudah bawaan, "dari sananya”, hingga sering kali atau dengan mudahnya kata kasar keluar dari mulutnya, bahkan sering kali juga keluar kata-kata binatang dalam sumpah serapahnya ! Mari kita berlindung kepada Allah SWT dari perbuatan yang demikian. Yang repotnya lagi kalau cacai maki itu di internet, di blog, ini akan di baca orang seluruh dunia dan selama tak di delete, kata itu akan terus tercatat, akan tetap ada, itu berarti energy buruk telah di alirkan ke para pembaca dan kalau yang baca ikut-ikutan mencaci maki orang juga lewat blog tadi, maka akan terjadi mata rantai dosa yang terus menerus menimpa orang yang pertama kali! Apa tak orang tersebut tak menyadarinya? Atau memang itu salah satu cara melepaskan uneg-unegnya yang tak berkesudahan. Astagfirullah.
Orang yang demikian itu mungkin lupa, belum mengetahui atau pura-pura tidak mengetahui agar berkata lemah lembut dalam kegiatan apapun, bukankah Nabi mengajarkan kelembutan, rendah hati, ramah dan berbagai tingkah laku sopan lainnya? Kalau kita berlaku kasar, ketika kita mengajak orang pada kebaikan, sepertinya mustahil mereka akan mengikuti apa yang akan kita katakan, iyakan? Loh gimana mau ikut, kalau yang mengajak sudah penuh kekasaran?
Namun demikian, kalau kita yang mendapat hinaan, cacian atau sumpah serapah lainnya, kalau mau membalas, iya silahkan saja, namun memaafkan itu lebih baik. Kalau soal dihina, sepertinya kita belum apa-apa, dibandingkan dengan para pembawa risalah ketuhanan, Mereka bukan hanya di sumpah serapah dengan kata-kata kasar, bahkan di “cap” gila, mana ada hinaan, caci maki yang lebih kasar dari “cap” gila?
Nah, saat menghadapi hinaan, caci maki atau apapun namanya yang bernada kasar, maka diperlukan sikap yang bijak, jangan di lawan. Di lawan, sama “gila”nya. Pada saat itu memang diperlukan penataan hati yang sebaik-baiknya, agar tak mudah marah atau mudah tersinggung, buat apa tersinggung? Toh hinaan atau caci maki tidak menyebabkan kematian, tidak menyebabkan orang sedang dihina menjadi hina atau tercela, yang terjadi sebaliknya, yaitu justru yang yang sering menghina orang lain dengan kata-katanya yang amat kasar, apa lagi di depan umum atau di hadapan orang banyak, kualitas orang itu sudah sangat-sangat jelas, sangat rendah, sangat hina. Jadi, mengapa takut dihina? Mengapa tersinggung bila dihina? Mengapa sakit hati bila dihina?
Begitu juga , ketika mungkin saja, orang-orang yang dicintai, dikasihi atau disayangi tiba-tiba meninggalkanmu, pada saat itu di perlukan penataan hati, agar yang terjadi tidak putus asa, tidak membawa kepada hal-hal yang tak di inginkan. Karena sering kali kita temukan, orang dengan mudah saja, menghabisinya hidupnya, hanya disebabkan “patah hati” atau “hatinya patah” hatinya luka, berdarah-darah, yang katanya sakitnya bukan main. Pada saat itu benar-benar harus ditata hatinya, dikembalikan pada Sang Pemilik Hati yang sesungguhnya, yaitu Allah SWT.
Sakit hati karena hinaan atau cacai maki, normal saja, karena manusia memang punya perasaan dan perasaan itu berhubungan dengan hati. Namun agar hati tidak sakit karena hinaan atau sumpah serapah orang lain, ada metode yang menarik yang bisa digunakan, salah satunya adalah: ketika kau dimarahi oleh orang lain, entah itu atasanmu atau bosmu dalam bekerja, atau temanmu yang tiba-tiba saja marah dan “menyemprot”mu dengan kata-kata kasar atau siapa saja yang marah padamu dengan mengeluarkan kata-kata kasar, senyumlah pada saat itu, perhatikan orang yang sedang marah itu, jadikan “tontonan” yang menarik, niscaya kau akan menemukan “sesuatu” yang memang menarik.
Loh gimana sih, orang marah kok menarik? Ya, menarik untuk menjadi “tontonan”mu secara gratis dan kaupun tak menjadi sakit hati karenanya, kaupun tak tersinggung karena marahnya, kau mungkin bisa, malah menjadi senang karena marahnya? Loh kok bisa? Coba saja deh, bila suatu saat kau dimarahi orang, siapapun orangnya, hadapi dengan tenang, nikmati marahnya dan tersenyumlah. Niscaya ada ‘sesuatu” di hatimu pada saat itu, bukan hatimu sakit, malah bahagia, apa lagi bila mengetahui bahwa saat kita di hina, dimarahi, di sakiti oleh orang lain, padahal kita tak menyakiti mereka, maka sudah suatu keuntungan yang luar biasa, tanpa usaha apa-apa, pahala kita bertambah dari orang yang menyakiti kita, menghina kita dan dosa-dosa kita berkurang, karena sudah diambil oleh orang yang sedang menghina atau memarahi kita, enak kan? Membahagiakan bukan?
Ada memang atau bahkan banyak, dimana orang ketika dimarahi atau dihina, menimbulkan dendam, apa lagi yang menghina atau yang memarahi adalah orang yang lebih atas darinya, baik usianya, kedudukannya, pekerjaannya, jabatannya dan lainnya sebagainya, dimana dia tak dapat membalasnya, bahkan tertunduk diam, malu, gemeteran, keluar keringat dingin dan lainsebagainya, pokoknya runyam. Nah bagaimana bila terjadi demikian? Lagi-lagi perlu penataan hati, perlu ketenangan hati, perlu ketajaman mata hati. Yang jelas, jangan patah hati, jangan sakit hati. Katakanlah: Dimarahi bukan akhir perjalanan hidup, di hina, tidak menyebabkan kematian, dihina, tidak menghancurkan kehidupan. Lalu mengapa menjadi sakit hati karenanya? Lalu mengapa perlu dendam? Buat apa dendam, bukankah dendam hanya menambah penyakit dalam hati?
Mengapa perlu ketajaman mata hati? Hati yang matanya tajam, tak akan mudah tersinggung dengan berbagai hinaan, caci maki, celaan atau “cap” apapun yang bernada buruk. Hati yang tajam adalah hati yang penuh dengan keikhlasan, hati yang penuh dengan nada-nada kasih sayang dan kelembutan pada apa dan siapapun, termasuk pada orang-orang yang menghinanya, mencaci makinya, yang mencelanya. Orang yang penuh keikhlasan dalam hatinya, akan mendoakan orang yang menghinanya agar mendapat taufik dan hidayahNya, agar orang yang tadinya penuh dengan kata-kata kasar, akan berubah 180 derajat menjadi sangat lembut dan sangat santun. Ah, alangkah indahnya bila hidup ini dipenuhi oleh orang yang hatinya lapang, hatinya ikhlas, hatinya lembut, hatinya penuh kedamaian, hatinya penuh maaf, hatinya penuh doa untuk orang lain.
Nah, orang yang sudah punya ketajaman mata hati, tak mudah tersinggung dengan kata-kata kasar orang lain, tak mudah marah ketika orang menyidir dirinya, tak mudah sakit hati ketika orang lain menghinanya, tak mudah dendam ketika dikhianati orang lain, tak mudah marah-marah bila menemukan sesuatu yang tak berkenan di hatinya, tak mudah menyalahkan orang lain ketika sesuatu menimpa dirinya, tak mudah mencari “kambing hitam” atas kesalahnnya sendiri, tak mudah sakit hati bila di tinggal pergi orang yang dicintai, tak menyerah bila sesuatu yang dicita-citakan tak tercapai, tak mudah mengrung diri bila dijauhi, tak mudah melarikan diri bila ujian datang menghampiri, tak mudah putus asa bila harapan tak sesui dengan kenyataan dan seterus. Yang ada di hati dan lisannya adalah tetap pujian untukNya, alhamdulillah, alhamdulillah dan alhamdulillah.

Mengingat Dahsyatnya Hari Kiamat

Merupakan kelanjutan dari daurah beliau di Jakarta. Al Ustadz Dzulqarnain membawakan penjelasan dari Surat Al Haqqah agar kita ingat kembali dengan dahsyatnya hari kiamat. File berikut iLmoe kopi dari rekaman kajian yang di upload oleh Problema Muslim. Semoga bermanfaat. Berikut rangkuman materi yang bisa kami publish, ditulis oleh BuBidan
Surat Al-Haqqah berisi ayat-ayat yang sangat agung, terdapat di dalamnya pelajaran-pelajaran yang sangat berharga.
Surat Al-Haqqoh merupakan Salah satu surat Makkiyah.
Ada 5 perkara penting dalam QS. Al-Haqqoh :
1. Peringatan Hari Kiamat (Hari Kebangkitan)
2. Mengambil pelajaran tentang umat-umat yang mendustakan nabi dan rasul bagaimana dahulu mereka dibinasakan
3. Adanya 2 golongan manusia pada hari kiamat yaitu yang mengambil kitab dari kanan dan yang dari kiri
4. Makna peringatan maqam ittiba’ Rasulullah Shalallahu ’alaihi wasalam
5. Perintah untuk bertasbih kepada Allah
Firman Allah : “Dan demikianlah kami turunkan Al-Quran itu. Al-Quran dengan bahasa arab yang fasih. Yang sangat mendalam kandungan dan maknanya. Dan kami terangkan di dalamnya berupa ancaman-ancaman supaya mereka senantiasa bertaqwa dan dan supaya mereka berdzikir kepada-Nya”
Faedah : jika dibacakan Al-Quran maka perhatikanlah maknanya sehingga menambah keimanannya dan memperkokoh kaidah hidupnya, dan apabila ia lupa darinya maka itu adalah sebuah nasihat supaya mengingatkan kembali kepada al-Haq
Al-Haqqoh merupakan salah satu nama dari nama-nama hari kiamat yang berarti pasti kembali
1. Hari kiamat adalah hari kebangkitan
“Sesungguhnya dalam hal tersebut ada peringatan. Siapa yang mempunyai hati atau siapa yang mempunyai pendengaran dan dia adalah orang yang mempersaksikan”
Peringatan Hari kiamat : Dalam awal surat “Wahai sekalian manusia, bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya kegoncangan hari kiamat adalah hal yang sangat dasyat. Di hari tatkala kalian melihatnya. Maka setiap wanita yang hamil menggugurkan kandungannya. Dan setiap wanita yang menyusui bayinya ia lalai darinya. Dan aku melihat manusia seakan-akan mabuk padahal dia tidak mabuk tapi siksaan Allah yang sangat pedih”
Peringatan bahwa ada masa-masa setelah masa-masa ini. Dan semua akan kembali kepada Allah
“Tidaklah seluruh yang ada di langit dan di bumi kecuali akan datang kepada Allah sebagai seorang hamba. Sungguh kami telah menghitung mereka dengan sangat detail dan kami telah mempersiapkan secara detail dan kami mempersiapkan dengan sebenar-benar persiapan, dan setiap orang akan kembali kepada Allah dalam keadaan sendiri”
HR Imam At Tirmidzi dan Nasai dari Abu Hurairah
“Perbanyaklah dari pengingat penghancur penegakkan yaitu kematian. Yang setiap manusia pasti akan mengalaminya. Pasti akan dijemput kematian. Dimanapun kalian berada. Walaupun kalian berada di dalam dinding yang sangat kokoh”
2. Mengambil pelajaran dari umat-umat terdahulu
Diawal surat Al-Haqqah disebutkan bahwa kehancuran kaum Tsamud, kaum Aad, Firaun dan kaum setelahnya. Bagaimana mereka dibinasakan karena pelanggaran dan menyelisihi para Rasul
Dan siapa saja yang menyimpang dari Rosul pasti berakhir dengan kebinasaan
“Dan betapa banyak dari negeri-negeri yang kami binasakan dan negeri-negeri itu dhalim. Engkau melihat atap-atap bangunannya telah menutupi runtuhan temboknya. Dan melihat sumur-sumur tidak berkursi lagi kehancuran yang menimpanya. Dan Allah memperingatkan, tidakkah kalian mengambil pelajaran. Dan mereka yang mempunyai hati yang dipakai untuk berfikir dan mempunyai telinga yang dengannya mendengar. Dan orang-orang yang berpaling dari hal ini bukanlah membutakan matanya di dunia tapi membutakan mata hatinya di dunia dari peringatan”
Dan diterangkan juga dalam Al-Quran
“Siapa yang berpaling dari mengingatku maka untuknya kehidupan yang sempit (Baik kesengasaraan di dunia atau di alam kubur) dan akan di bangkitkan dalam keadaan buta. Dan mereka bertanya, Wahai Rabbku kenapa engkau bangkitkan kami dalam keaadaan buta padahal kami dulu dapat melihat?”
Ada 2 ayat untk peringatan yaitu :
Ayat-ayat Syar’i dan ayat Kauniyyah
“Barangsiapa yang di dunia ini dalam keaadaan buta maka di akhirat mereka akan di bangkit dalam keaadan buta dan lebih sesat jalannya”
Sehingga seharusnya kita mengambil pelajaran kenapa umat terdahulu dibinasakan oleh Allah. Sehingga kita tidak terjatuh dua kali
“Orang yang beruntung adalah orang yang mampu mengambil nasihat terhadap apa yang terjadi pada selainnya”
3. Peringatan bahwa pada hari kiamat ada 2 golongan manusia
Selain dalam ayat ini juga diterangkan juga dalam berbagai ayat lainnya
“Satu kelompok di dalam surga dan satu kelompok dalam neraka. Diantara mereka ada yang merugi dan diantara mereka ada yang beruntung”
Hendaknya menjadi renungan apa hakikat mereka hidup di dunia ini? Yang setiap orang akan mempertangung-jawabkan setiap perbuatannya. Dengan amalnya apakah masuk surga atau masuk nearaka
“Siapa yang beramal shaleh untuk dirinya sendiri. Dan siapa yang beramal jelek maka dia sendiri yang akan menanggungnya”
Dalam hadist qudsi Allah berfirman, “Wahai sekalian hamba-Ku, seseungguhnya itu adalah amalan-amalan kalian sendiri. Saya catat dengan sangat detail kemudian akan saya sempurnakan pembalasannya kepada kalian maka siapa yang mendapatkan kebaikan hedaknya memuji Allah. Dan siapa yang mendapat kejelakan hendaknya mencela dirinya sendiri”
Sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk beralasaan dalam mempertanggung-jawabkan perbuatan kita karena telah ada petunjuk yang jelas dalam Al Quran dan telah diutus pada kita seorang Rosul.
4. Makna peringatan maqam ittiba’ Rasulullah Shalallahu ’alaihi wasalam
Firman Allah, “Sungguh Saya bersumpah dengan apa yang kalian saksikan dan yang belum disaksikan. Sungguh apa yang dibawa oleh Rasululllah adalah hal yang benar. Bukan ucapan penyair dan bukan pula ucapan dukun dia adalah apa ynag diturunkan dari sisi Allah”
Dari firman Allah tersebut menyebutkan wajibnya kita untuk taat kepada Rasulullah
5. Perintah untuk bertasbih kepada Allah
Di akhir surat terdapat perintah untuk bersyukur kepada Allah.
Mensucikan Allah ada beberapa makna : dalam Ubudiyah Allah, Rubbubiyah, dan Asma wa Sifat-Nya

Menghina Allah

Oleh Halimah

Sebagai saudara, teman atau tetangga, biasanya jika ada yang melahirkan maka berbondong-bondong lah kita untuk datang dan mengucapkan selamat. Karena anak karunia Allah dan sekaligus tertitip harapan di hati semoga menjadi orang yang shalih dan sholeha.
Menimang sang bayi dan mendo’akannya. Merupakan kebiasaan yang baik. Tapi kadang perbuatan baik tersebut ternodai dengan kata ( maksudnya hanya canda ) yang tidak seharusnya keluar dari mulut kita.
“Kok anaknya jelek? Tidak seperti ibunya.” Atau kata, “ Anaknya cakep, ayahnya jelek, keturunan darimana ini?” Atau, “hidungnya mancung, tapi…”
Banyak lagi kata yang biasanya ditanggapi dengan senyum atau tertawa yang menandakan, bahwa yang disinggung tak merasa itu sebuah kejelekan. Karena memang kata-kata itu sepertinya sudah lumrah untuk dikatakan oleh sebagian orang setiap bertemu dengan anak-anak. Tak ada masalah, karena yang melempar dan dilempar kata sama-sama maklum.
Padahal siapa sih yang ingin jelek? Semua orang pasti ingin berwajah cantik atau ganteng. Ingin postur tubuh atau secara fisik sesuai dengan standar apa yang berlaku di mata kita. Tidak ada yang ingin dikatakan jelek atau kurang baik. Apa yang ada di tubuh kita atau bentuk apa pun yang kita miliki inginnya itu lah yang terbaik nilainya di hadapan orang lain. Tapi kita ( sebagian orang ) sering kali terlupa, bahwa apa pun yang kita punyai atau pun orang lain miliki, semuanya adalah diciptakan sesuai dengan “kemauan” sang Pencipta tubuh kita. Kita tidak berhak memberi nilai minus untuk setiap ciptaan-Nya. Karena semuanya pasti ada hikmah yang tersembunyi.
Mari kita buka kembali lembaran suci Al-Qur’an dan lihat lah firman Allah Swt. pada surah Al-‘At-Tiin ayat 4 , “ Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
Allah sendiri memuji ciptaan-Nya dan kita sebagai hamba yang sering kali membacanya, tapi kadang lupa dengan terpleset lidah. Kita tak menyadari, sedikit demi sedikit hal negatif dari lingkungan kita tertanam di otak, dan menyadari itu ada hal yang wajar. Alias semuanya tahu, itu hanya canda.
Padahal canda atau apapun kata yang dikeluarkan dengan tujuan membuat segar suasana, tidak seharusnya kita menghina Allah ( walau tak menyadari ). Walau lingkungan menganggap itu biasa, tapi bagi kita yang beriman, tidak seharusnya terikut arus “pembiasaan” . Karena perbuatan itu tak seharusnya turut kita lakukan. Dan perbuatan yang kurang terpuji itu, bila sangat memungkinkan harus kita “cerahkan” dengan memberikan alasan yang bisa mereka terima dengan baik.
“.. saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran”. ( Al-‘Ashr – ayat 3 )

Menikahi Wanita Langit

Oleh M. Arif As-Salman

"Ya Allah, bimbinglah hati ini menuju cinta-Mu. Cinta yang membuat hamba semakin merindukan-Mu. Cinta nan gung dan suci. Ya Rabb, karuniakan pada hamba-Mu seorang bidadari dunia yang Engkau cintai. Seorang wanita sorga yang Engkau hadirkan di bumi. Penyejuk hati dan jiwa. Seorang hamba-Mu yang mengantarkan diri ini pada sorga-Mu. Amin."

Air mata Fuad mengalir deras. Dadanya sesak oleh tangis yang kencang. Ia tak dapat mengendalikan gejolak yang bergemuruh di hatinya. Sejak lama ia merindukan seorang bidadari yang akan mendampinginya mengarungi hidup menuju keabadian di sorga kelak. Ia sangat mendamba seorang wanita yang membuatnya semakin cinta pada Allah.

Dulu, saat masih kuliah S.1 di Jurusan Hadits, Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar, Kairo ia pernah ditawarkan dengan seorang mahasiswi oleh temannya yang telah menikah. Tapi saat itu ia menolak tawaran tersebut. Obsesinya untuk menyelesaikan S.2 lebih kuat mengalahkan keinginan untuk menikah. Namun kini, ia merasa dirinya harus segera menyempurnakan separuh agamanya. Ia membutuhkan seorang pendamping yang menjadi tempatnya berlabuh dan menumpahkan berbagai cerita dan gelisah jiwanya. Apalagi desakan dari Ibunya membuatnya tidak lagi bisa berdiam diri.

Ia sendiri heran, kenapa dorongan untuk menikah serasa kuat menyesak di rongga dadanya. Apakah saatnya telah tiba? Ia mencoba untuk banyak berpuasa, tapi puasa itu seakan tak mampu menundukkan gejolak itu. Berat. Hampir setiap malam ia menangis. Mengadukan perasaannya pada Sang Pencipta. Menumpahkan segala sesak di dada. Ia berdoa dalam tahajudnya yang panjang. Mengharap belas kasih dan curahan rahmat dari Sang Pemilik Jiwa.
[][][]

"Selamat ya Fuad atas prestasi yang kamu raih dalam lomba Jaizah Dubes kemaren. Kapan jadi berangkat ke Australia?" Sapa Ustadz Jalal pada Fuad ketika Fuad berkunjung ke rumahnya.
"Insya Allah tanggal 14 Juli nanti, Ustadz."
"Insya Allah, semoga urusannya lancar dan perjalanan kamu diberkahi Allah."
"Amin, syukran doanya Ustadz."
"Sama-sama akhi. Apa kesibukan kamu sekarang?"
"Fokus merampungkan Tesis S.2. Saya punya target tahun depan sudah bisa di-munaqasyahkan, insya Allah."
"Insya Allah, akhi. Saya kagum dengan semangat dan kegigihanmu menuntut ilmu. Dalam usia yang masih muda, kamu akan menyelesaikan S.2-mu."
"Biasa saja Ustadz. Belum sepadan dengan prestasi yang pernah Ustadz raih," balas Fuad penuh senyum.

"Kamu terlalu merendah Akhi, saya senang bisa mengenalmu. Jarang lho di Al-Azhar ada mahasiswa yang bisa menyelesaikan S.2-nya pada usia 26 tahun."
"Seharusnya saya yang merasa senang bisa berkenalan dengan kandidat Doktor Jurusan Tafsir di Universitas Al-Azhar," jawab Fuad tak mau kalah.
"Ah, kamu terlalu berlebihan memuji saya akhi. Begini Akhi, mungkin lansung saja ya pada inti pembicaraan. Saya diberi amanah oleh kakak saya di Indonesia untuk mencarikan calon suami untuk anaknya. Selama ini saya mengamati mahasiswa-mahasiswa yang saya kenal termasuk akhi. Setelah saya coba pikirkan dan bicarakan dengan istri saya, saya melihat akhi orang yang tepat."
"Afwan Ustadz, saya kira Ustadz keliru dan terlalu berlebihan menilai saya. Saya hanya orang yang biasa saja."

"Tidak Akhi. Penilaian ini bukan asal-asalan. Tapi setelah sekian lama saya mengamati kehidupan Akhi. Kalau akhi berminat dan telah punya keinginan untuk menikah, kita bisa bicarakan lebih lanjut."
"Apakah calon yang wanitanya di Indonesia Ustadz?"
"Tidak, dia kuliah di Jurusan Syariah Islamiyah, tingkat tiga."
"Apa saya mengenalnya Ustadz?"
"Mungkin tidak. Sangat beda dengan akhi, kalau akhi seorang aktivis dia sebaliknya. Tidak banyak yang mengenalnya."
"Apa dia sendiri telah siap menikah Ustadz?"
"Insya Allah, kalau dia gak ada masalah. Ia selalu menuruti keinginan orang tuanya. Dia anak yang penurut. Kalau akhi bagaimana, apa sudah punya calon?"
"Belum Ustadz."
"Berarti pas sekali," tanggap Ustadz Jalal penuh riang dan menunjukkan wajah cerah.
"Tapi Ustadz, saya butuh waktu untuk mencerna dan mempertimbangkannya. Saya belum bisa memberi jawaban sekarang. Saya butuh waktu seminggu untuk memberi jawaban pada Ustadz."
"Tidak mengapa akhi. Saya bisa maklum. Silahkan ditimbang dulu dengan matang. Jika akhi menyetujui saya sangat senang sekali. Namun bila sebaliknya, tidak mengapa, saya akan mencoba menawarkan pada yang lain."
"Insya Allah Ustadz, akan saya istikharahkan pada Allah, semoga Allah menunjukkan yang terbaik, amin."
"Amin."
[][][]

"Alhamdulillah, akhirnya amanah ini tersampaikan juga. Saya sangat senang sekali. Selamat Fuad kamu akan menikah sebentar lagi."
"Doanya Ustadz, semoga saya bisa mengemban amanah ini dengan baik."
"Amin, semoga Allah selalu memberkahi kalian nantinya, amin. Fuad, ada satu hal yang sangat penting untuk kamu ketahui, calon istrimu itu cacat."

Fuad sangat terkejut.
"Cacat maksud Ustadz bagaimana?"
"Cacat pendengaran, penglihatan, lisan, kedua tangan dan kedua kaki. Terkadang sering berbicara sendiri dan juga sering menangis tanpa sebab. Bagaimana, apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu?"
Fuad diam sejenak. Ia terlihat memikirkan sesuatu. Tak lama kemudian ia menjawab.

"Insya Allah, saya siap Ustadz," jawabnya dengan mantap.
"Ini keputusanmu?"
"Ini bukan keputusan saya Ustadz, tapi keputusan Allah. Saya telah meng-istikharahkan dan saya rasakan hati saya mantap dan teguh dengan pilihan ini. Saya yakin Allah lebih mengetahui apa yang terbaik untuk saya."

"Apa kamu tidak menyesal dengan pilihan yang telah kamu ambil?"
"Tidak Ustadz, sama sekali tidak. Bagi saya, pilihan Allah lebih baik dan mulia. Walau secara zahir itu berat dan mungkin menyakitkan, tapi saya rela dan ikhlas. Insya Allah ada pahala dan kebaikan disana menanti. Saya teringat ketika Nabi Ibrahim harus dilemparkan ke dalam api, saat itu beliau tidak gusar dan tidak takut sedikitpun, karena Allah selalu bersama hamba-Nya yang berserah pada-Nya. Atau ketika Nabi Ibrahim harus meninggalkan istri dan anaknya di padang pasir yang tandus demi memenuhi seruan Allah."

"Saya kagum dan bangga padamu Fuad. Sebenarnya sejak awal saya ingin menceritakan padamu kondisi calonmu itu. Tapi, saat itu saya lupa untuk menyampaikannya. Maafkan atas kealpaan saya tersebut."
"Tidak mengapa Ustadz, semuanya sudah terjadi, dan sebagai seorang hamba Allah kita wajib menerima kehendak takdir. Barangkali dalam takdir Allah saya harus menikah dengan seorang wanita yang cacat. Saya ikhlas Ustadz. Mungkin disana pula sumber pahala saya dari Allah. Berkhidmah pada hamba-Nya yang cacat."

"Tapi apakah akhi tidak mencoba mencari wanita lain yang lebih baik dan sempurna?"
"Sebenarnya pada saat Ustdaz menawarkan anak dari kakak Ustadz pada saya, dua hari sebelumnya saya juga ditawarlan oleh teman saya, bahwa teman istrinya juga lagi mencari calon suami. Dan sebelumnya juga ada tawaran. Karena itu saya meminta pada Ustadz agar memberi saya waktu satu minggu untuk istikharah. Karena ada tiga wanita yang akan saya istikharahkan. Saya perlu waktu yang lama untuk memikirkan dan memutuskan dengan matang."

"O begitu, saya baru paham. Kekuatan apa lagi yang menguatkan langkahmu untuk menjatuhkan pilihan pada anak kakak saya tersebut?"
"Istikharah dan mimpi kedua orang tua saya Ustadz. Kami mengalami mimpi yang sama dan merasakan ketentraman serta kemantapan hati yang sama."
"Saya kagum padamu akhi, saya merasa tidak salah memilih dan menilai selama ini. Akhi adalah orang yang tepat. Semoga Allah merahmati hidupmu dan keluarga yang akan akhi bina nantinya, amin," ucap Ustadz Jalal dengan wajah berbinar-binar.
[][][]

Satu minggu berlalu setelah pernikahan, Fuad menemui Ustadz Jalal Fakhruddin di rumahnya, di Bawwabah Tiga.

"Bagaimana kabarnya Fuad? Kamu terlihat sangat cerah dan lebih segar sekarang."
"Alhamdulillah Ustadz. Segala puji bagi Allah atas nikmat yang Ia curahkan."

"Ada yang ingin saya tanyakan tentang cerita Ustadz kemaren. Ustadz mengatakan bahwa istri saya cacat pendengaran, penglihatan, lisan, kedua kaki dan tangan. Sering berbicara sendiri dan kadang suka menangis tanpa sebab. Saya telah mengetahui dua jawaban yang terakhir. Saya menyadari bahwa istri saya memang sering terlihat seolah berbicara sendiri. Awalnya saya heran. Tapi setelah saya tanyakan dan mendengar dari dekat, ia tengah berzikir, menyebut nama Allah, terkadang bershalawat pada Rasulullah, dan membaca al-Quran. Saya perhatikan ia melakukannya setiap hari, setiap waktu, tanpa henti. Sewaktu menyapu rumah, mencuci piring, menjemur pakaian, memasak, lisannya seolah tak pernah berhenti berzikir. Begitu juga saat bepergian ke luar rumah. Adapun yang Ustadz katakan, bahwa ia terkadang sering menangis tanpa sebab, saya hampir mendapati itu tiap hari juga. Ketika saya tanyakan, ia menjawab bahwa ia teringat akan dosa-dosanya pada Allah, takut jika amalnya tidak diterima, teringat azab dalam kubur, mahsyar, hari penghisaban, shirat dan siksa neraka. Jika teringat akan hal itu air matanya sering meleleh. Itulah yang saya ketahui. Sedangkan cacat pendengaran, penglihatan, lisan, kedua tangan serta kaki itu, saya tidak mendapatkan. Saya perhatikan semuanya baik dan sehat."

"Akhi Fuad, alhamdulillah akhi telah menemukan jawabannya. Sedangkan maksud saya cacat pendengaran adalah, telinganya tidak pernah mendengarkan perkataan yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Tidak pernah mendengarkan musik dan segala lagu-lagu yang merusak iman dan jiwa. Sesungguhnya yang selalu menjadi penghibur dirinya adalah al-Quran dan nasehat-nasehat para ulama. Cacat penglihatan adalah tidak pernah melihat pada yang haram, seperti menonton film yang di dalamnya syahwat diumbar, bisa saya katakan, matanya selalu terjaga dari melihat segala hal yang mengudang dosa dan maksiat. Dan cacat lisan adalah ia tidak pernah berinteraksi dengan laki-laki, baik melalui sms, telpon, chating di YM, di FB dan seterusnya. Ia sangat menjaga hubungan dengan lawan jenis. Lisannya terjaga dari komunikasi dengan lawan jenis. Adapun cacat tangan adalah tidak pernah berbuat yang nista dan tercela. Sedangkan cacat kaki adalah selalu terjaga dari menempuh tempat-tempat maksiat. Selama di Mesir kakinya hanya melangkah untuk ke mesjid, majlis-majlis ilmu, bersilaturahmi, tidak pernah pergi ke warnet, mengikuti acara-acara yang di dalamnya bercampur laki-laki dan perempuan. Begitulah akhi, penjelasan singkatnya. Nanti setelah hidup lebih lama dengannya akhi akan banyak mengetahui tentang dirinya."

"Saya bersyukur Ustadz, inilah rupanya rahasia di balik petuntuk yang Allah berikan, dan hasil dari istikharah saya selama ini dan juga mimpi saya. Saya melihat dalam mimpi sebuah cahaya yang begitu terang, meneduhkan, menyejukkan, dan beraroma harum seperti kasturi."

Air mata Fuad menetes penuh bahagia, ia lalu bersujud syukur. Ia telah dikaruniai seorang wanita sorga yang dihadirkan Allah ke bumi. Wanita yang selalu menjadi buah bibir penduduk langit karena ketaatannya. Ia teringat dengan hadits Rasulullah. Walau di bumi istrinya tidak dikenal banyak orang tapi di langit, ia yakin istrinya selalu disebut dan didoakan oleh para malaikat.


NB:Mudah-mudahan pelajaran yang terkandung di dalamnya dapat kita petik, insya Allah. Kisah ini terinspirasi dari kisah nyata dari seorang teman yang menceritakan seorang mahasiswi Al-Azhar yang sangat menjaga hubungannya dengan laki-laki. Kisah ini ia dapatkan dari istrinya. Mahasiswi tersebut tidak pernah chating via YM, SMS, telpon-an, dan FB-an dengan laki-laki. Masih 'suci' dan 'bersih'. Semoga ini menjadi motivasi dan inspirasi bagi kita. Liman kaana lahu qalbun au alqa assam`a..